#MODYARHOOD: SAAT SUAMI DAN ISTRI SALING BERBAGI TUGAS DOMESTIK

Stereotip yang melekat pada diri wanita, istri, atau ibu biasanya adalah mereka yang selalu mendapatkan tugas untuk mengerjakan perkerjaan domestik seperti memasak, mencuci baju, menyetrika baju, megurus anak, membersihkan rumah, dan urusan rumah tangga lainnya. Sedangkan untuk urusan mencari uang/bekerja selalu menempel pada diri sorang pria, suami, atau ayah. Tapi percayalah stereotip tersebut nggak berlaku untuk saya dan juga suami saya.

Kami berdua sama-sama bekerja di rumah. Tidak memakai jasa ART maupun pengasuh anak. Semua pekerjaan rumah kami kerjakan berdua secara bergantian. Misalnya saya yang masak atau menyiapkan makanan, nah nanti selesai makan gantian suami saya yang mencuci piring. Suami saya menyapu, saya yang ngepel. Suami saya yang cuci baju, saya yang lipet-lipet baju. Kalau kerjaan suami sedang longgar sedangkan saya dikejar-kejar deadline, ya suami saya yang full mengasuh anak kami dan juga beresin urusan domestik. Mulai dari mandiin, nyebokin, nemenin makan, nemenin main, atau ngajak jalan-jalan ke taman kota, beli makanan, cuci baju, cuci piring, dan lain-lain.

Sedangkan saat kerjaan saya longgar dan suami saya banyak kerjaan, gantian saya yang mengasuh dan ngurusin segala sesuatunya. Kalau sama-sama sibuk gimana dong? Kita tetep mengasuh anak bersamaan sambil bekerja. Risikonya baru 5 menit kerja, si Ivy udah manggil-manggil minta ditemenin, otomatis kita mau nggak mau harus mau nemenin hahaha. Biasanya dia milih sih, mau ditemenin mamah atau papahnya, atau yang bikin repot itu dia maunya ditemenin mamah papahnya, nggak boleh kerja, nggak boleh pegang hp, harus fokus main sama dia. Hihihi.

Jadi sebenernya sama, sama-sama gantian ngasuh, sama-sama gantian kerja. Untuk urusan domestik kalau kami sama-sama sibuk biasanya ambil yang praktis aja. Misalnya, nggak usah masak, beli makanan di warung deket rumah. Kalau nggak sempet keluar biasanya pesan makanan melalui layanan ojek online heuheuheu. Praktis, nggak usah menghabiskan waktu buat masak dan nyuci piring, jadi nggak nambah-nambahin beban pekerjaan juga kan?

Ngomong-ngomong soal masak-memasak, saya orangnya jarang (banget) masak. Masak kalau lagi pengen masak aja dan suami saya nggak pernah menuntut agar saya tiap hari memasak. Dia sih fleksibel, dimasakin nggak apa-apa, nggak dimasakin juga nggak apa-apa, masak nggak masak yang penting makan:D. Meski skill memasak saya di atas rata-rata (ciyee..), tapi kami lebih suka beli masakan yang udah mateng, nggak repot, waktu untuk masak bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain, nggak bikin kotor dapur karena bersihinnya juga PR banget, dan juga hitung-hitung support warung-warung tetangga. Ya kannn?:D Ini sebenernya alesan ajas siihhh padahal sebenernya saya males masak :D. Eh tapi beneran, kami berdua nggak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil yang sebenernya nggak perlu dibikin ribet seperti urusan masak-memasak ini. Kalau ada yang praktis kenapa pilih yang ribet?

 

Sebernya kalau dibayangin emang capek banget ya, kerja sambil momong, sambil ngerjain pekerjaan domestik, apalagi ditambah jika kalian memiliki toddler bakal lebih berlipat-lipat capeknya dan kerjaan nggak ada habisnya. Emang bener kalau kadang sampai hampir modyar saking capeknya. Tapi kami berdua udah terbiasa mandiri sejak awal menikah. Jadi yaa biasa aja rasanya ngerjain semuanya sendiri tanpa ART maupun pengasuh, udah terlatih hahaha. Apa nggak pernah mengeluh karena kecapekan? SERING! SETIAP HARI! Ngeluh doang kan nggak apa-apa, malah kadang bikin beban jadi berkurang, yang penting segera istighfar dan segera beresin kerjaan yang belum kelar aja jangan terus-terusan mengeluh :D.

Gampang kok kalau misalnya sama-sama kecapean kami nggak memaksakan diri buat beresin kerjaan domestik saat itu juga. Misalnya, membiarkan cucian baju dan cucian piring numpuk, menunda beresin rumah sampai kami bener-bener memiliki waktu senggang untuk membereskannya, malah kadang kalau punya waktu luang lebih kami lebih memilih untuk jalan-jalan, nonton film, atau goler-goler di kasur seharian. Jadi intinya, jangan dijadiin beban lah itu kerjaan domestik yang nggak ada habisnya. Daripada tambah stress sendiri kan? Tapi saya nggak pernah absen menyapu lantai, lho. Jujur aja saya risih kalau lihat lantai kotor, tapi entah mengapa saya nggak risih kalau lihat cucian numpuk hahaha!

Jadi balik lagi ke awal, we do believe in gender equality in our relationship. We don’t believe in old stereotype, “Bapak pergi ke kantor sedangkan ibu memasak di dapur.” Kami sama-sama bekerja (cari uang). Kami sama-sama secara bergantian mengerjakan pekerjaan domestik. Setiap pasangan pasti beda-beda gimana cara mereka bagi tugas. Kalau udah disepakati gimana sistem bagi tugasnya ya nggak masalah kalau mau semua pekerjaan domestik hanya dikerjakan istri saja atau malah suami saja, asal sama-sama sepakat dan merasa nyaman dengan tugas masing-masing tersebut, why not?

 

Images source: Pinterest & Puty’s Blog

Playlist bikin tulisan ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *