THOUGHTS

2020 SUMMARY

Ngga terasa 2021 sudah di depan mata. Sejak bulan Maret 2020 lalu, atau bahkan sejak Februari pandemi dimulai dan pemerintah melakukan lock down di hampir semua kota, hari-hari terasa begitu cepat. Perasaan baru kapan hari merayakan pergantian tahun 2020, sekarang sudah mau merayakan pergantian tahun lagi 2020.

Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya terasa sangat sepesial, tahun ini juga terasa biasa-biasa saja. Bahkan hari spesial seperti pernikahan pun juga dirasakan sebagai hari yang biasa-biasa saja oleh para pengantin. Ya, karena kita semua tau, ngga boleh kumpul-kumpul, ngga boleh ngerayain apa-apa dengan keluarga besar dan teman-teman karena ditakutkan akan semakin luas penyebran virusnya.

Kita semua tau dampaknya sangat besar terutama di faktor ekonomi. Seperti saya yang memiliki usaha suvenir tentu saja tahun ini omzet turun drastis karena ngga ada yang ngadain pesta. Ngga ada pesta, ngga ada orderan suvenir, ga dapet duit. Tapi Allah menggantinya dengan memberi saya orderan masker yang ngga ada habisnya dan sampai kuwalahan sampai saat ini. Alhamdulillah.

Tahun 2020 mengajarkan saya untuk mensyukuri apa yang selama ini telah saya miliki. Saya baru sadar karena termasuk privileged dalam hidup. Masih diberi kesehatan adalah privilage. Masih diberi pekerjaan yang meghasilkan uang di saat pandemi adalah privilage. Masih memiliki tabungan yang cukup adalah privilage. Masih bisa memilih makanan apa yang akan dimakan adalah privilaged. Memiliki gadget dan akses internet di rumah adalah privilage untuk anak saya yang bersekolah dari rumah secara daring. Dan masih banyak lagi privilages yang saya miliki dan selama ini kadang lupa saya syukuri.

2020 teach us how to be grateful about what we have…

Sempat sedih karena batal liburan ke luar negeri padahal udah janji ke Ivy saat dia ulang tahun ke lima di bulan Februari lalu akan saya ajak jalan-jalan ke luar negeri. Sempat merasa bersalah kenapa ngga dari tahun-tahun kemarin aja perginya huhuhu. Tapi untungnya dia mengerti dengan keadaan saat ini dan dia ngga pernah komplain diajakin stay at home selama pandemi ini.

Emang selama ini kami bertiga kurang suka pergi-pergi, lebih suka di dumah aja. Kalau bisa dikerjakan di dan dari rumah kenapa harus keluar? Alhasil selama pandemi ini kami bertiga fine-fine aja di rumah terus. Di rumah nyaman karena wifi kenceng, mau makan tinggal pesan, kami kerja juga dari rumah, jadi di rumah saja bisa nyaman dan dapat duit. Ini bener-bener privilages yang sangat kami syukuri dan ngga semua orang memilikinya.

Selain dampak ekonomi, banyak juga yang merasakan dampak psikologi. Banyak orang yang jadi mudah marah (termasuk saya :D), gampang tersinggung, gampang nangis, gampang sedih, stress, dll. Stay at home bikin rumah tangga yang memiliki pasangan toxic semakin toxic. Ngga sedikit kasus perceraian dan kekerasan terhadap pasangan, terutama terhadap perempuan, saat pandemi ini. Ngga bisa bayangin karantina di rumah dengan pasangan yang toxic yang suka KDRT rasanya seperti apa :(.

Beberapa konsumen saya juga banyak yang makin ke sini makin ngga masuk akal permintaannya dan bahasanya semakin kasar. Sudah sebulan ini saya memutuskan untuk break sejenak dari pekerjaan. Masih terima order sih tapi yang ngerjain semua orderannya karyawan saya, saya ga ikutan kerja. I need a break a lil bit longer. 2020 bikin saya juga makin stress gara-gara ngadepin para konsumen yang stres juga 🤣

Mengapa harus memaki-maki kami para penjual kalau bisa ngomong dengan baik? Bahkan saya terpaksa memblokir beberapa konsumen karena sudah keterlaluan. Banyak konsumen yang masih menganggap dirinya raja. Suka semena-mena merasa sudah bayar dan selalu minta didahulukan. Ya padahal ngga dia doang yang beli, masih banyak antrian lain. Kan ngga masuk akal dateng paling akhir tapi minta didahulukan. You can buy stuff with your money, but you can’t buy attitude! Kenapa gitu yaa orang-orang? Apakah ada masalah pribadi dalam dirinya sehingga melampiaskannya ke orang lain termasuk saya yang jadi korban? hiks.

Oiya, dengan adanya work from home dan school from home, saya jadi mikir, ternyata selama ini hampir semuanya bisa dikerjakan di dan dari rumah. Sekolah dari rumah, kerja dari rumah, jualan dari rumah, meeting dari rumah, nonton konser dari rumah, dll. Saya pribadi seneng sih kalau anak bisa sekolah dari rumah. Udah mirip dengan home schooling. Saya ngga repot mondar mandir antar jemput, ngga buru2 mandi di pagi hari, lebih hemat bensin, hemat waktu karena saya kerja di rumah jadi kadang waktu saya habis buat mondar mandir antar jemput sekolah.

Sisi buruknya, Ivy jadi kurang disiplin. hahaha! Dia jadi agak malas belajar, saya juga kadang malas ngajarin huhuhu. Udah gitu kadang dia ngga mau nurut. Sore waktunya mengaji juga harus agak dipaksa biar mau belajar mengaji. Udah gitu sepertinya dia juga kangen sama teman-teman sekolahnya. Meski hampir tiap hari sekolah daring di zoom atau WhatsApp group bersama guru dan teman-temannya tapi beda aja rasanya dengan langsung tatap muka.

Saya tau ngga cuma kita aja yang berat untuk mendidik anak kita di rumah. Guru pun juga kesulitan untuk mengajar secara daring. Butuh waktu dan tenaga ekstra. Misalnya jam pertama mengajar di WAG yang terdiri dari 8 orang saja. Kemudian di jam berikutnya harus ngajar lagi dari awal. Gitu aja terus sampai semua murid kebagian. Kan sebenrnya ngga efektif dan efisien. Tapi mau gimana lagi namanya juga keadaan yang mengharuskan seperti ini. Saya pribadi sangat menghargai efforts guru. Pasti ngga mudah mengajar dalam situasu seperti ini. Kok ya masih aja orang tua murid yang komplain ke gurunya huhuhu!

So, what I’ve learned from 2020 Covid-19 pamdemic? 

Kalau saya dan keluarga jadi rajin cuci tangan, pakai masker, dan ganti baju. Intinya jadi lebih bisa jaga kebersihan. Trus, sebenernya kita bisa kerja, sekolah, nonton konser, meeting, atau apa aja dari rumah. Selain itu, saya jadi lebih bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Terakhir, jaga muluttttt, please! Saya suka heran kok ya ada orang yang suka komentar apapun, baik di unia nyata maupun di media sosial. Apa aja dikomentari. Bahkan bukan ranahnya pun ikut-ikut komentar. Buat apa, sih? Kayak kelebihan energi dan kurang kerjaan 😭.

Ada orang yang suka upload foto selfie-nya, biarin.

Ada orang yang suka upload foto dan video anaknya, biarin.

Ada orang yang suka foto karyanya, biarin.

Ada orang yang suka main tiktok, biarin.

Ada orang yang suka foto masakannya, biarin.

Bahkan kapan hari saya upload progres saya dalam belajar bahasa Jepang juga masih ada aja yang nyinyir.

WHY? Are you okay? Are you depressed or something so you gave bad words to another? 

Kalu ngga suka tinggal unfollow atau mute. Ngga perlu nyinyir. Kita ngga pernah tau kondisi seseorang seperti apa. Jadi selama ngga merugikan kita, ya biarin aja lah! Let them be happy as long as they aren’t hurt you.

Oiya ongomong-ngomong soal nonton konser dari rumah, saya beberapa waktu lalu berkesempatan menonton konser virtualnya RADWIMPS. Lumayan menghibur dan ngurangin stress. Saya ngga pernah nge-fan sama seseorang atau sama band, tapi sama RADWIMPS kok beda aja rasanya. Hahaha! Pengalaman nonton konsernya sudah saya tulis di post sebelumnya ya silahkan dibaca bagi yang penasaran hehe.

BACA LAGI: CONCERT REVIEW RADWIMPS 15TH ANNNIVERSARY SPECIAL CONCERT.

Yaudah gitu aja, selamat tahun baru 2021. Semoga pandemi ini segera berakhir. Entah itu kapan semoga cepet kelar. Biar bisa kumpul-kumpul lagi, jalanjalan lagi, sekolah lagi, ngantor lagi, nonton konser lagi, nonton di bioskop lagi. Semoga kita bisa melewati tahun 2021 nanti lebih baik lagi. Terima kasih untuk semua konsumen saya yang baik-baik. Yang akhlaknya buruk tetep saya beri ucapan terima kasih karena sudah mengajarkan saya untuk jadi orang yang lebih sabar dan ikhlas 😁. Terima kasih untuk semua dokter dan nakes yang sudah berjuang di garda terdepan untuk memerangi pndemi ini. Terima kasih untuk para guru. Terima kasih untuk semuanyaaaa!

HAPPY NEW YEAR 2021!!

Leave a Reply