MOVIE REVIEW

REVIEW AVATAR: THE WAY OF WATER

“The way of water connects all things. The sea is our home before our birth and after we die.”

SPOILER ALERT! Tulisan ini mengandung spoiler, jadi kalau belum nonton dan ngga pengen kena spoiler, mending jangan dibaca, ya!

Penantian kita setelah 13 tahun terbayar sudah dengan dirilisnya sequel dari Avatar pada tahun 2009 lalu. Banyak yang menanti sequel ini, tapi banyak juga yang skeptis karena memang ngga semua film perlu dibuatkan sequelnya. Sebenernya sebelum berangkat nonton udah agak males karena durasi yang lama banget sampai tiga jam dan juga dapetnya tiket di jam malam. Jadi selesai nonton pasti udah ngantuk banget. Kalau dilihat dari trailernya aja udah kelihatan bagus, sih, efek visual-nya. Jadi, yaudah saya berangkat aja :D. Berikut saya ulas lebih dalam, ya!

Avatar: The Way of Water membawa kita kembali ke dunia Pandora, di mana manusia yang berubah menjadi Na’vi Jake Sully (Sam Worthington) dan putri Na’vi Ney’tiri (Zoe Saldana), harus melakukan apapun yang diperlukan untuk melindungi anak-anak mereka dari ‘sky people’ (manusia dari bumi). Manusia menganggap Na’vi sebagai musuh dan pemberontak, padahal merekalah yang dengan paksa menyusup dan menduduki tanah mereka.

Saat kembalinya manusia bumi ke Pandora untuk balas dendam, Jake Sully dan keluarga memilih untuk pergi dari hutan dan melepaskan statusnya sebagai Toruk Makto. Hmm, menurut saya ini tindakan yang agak-agak pengecut, sih, yaa :D. Bukannya dihadapi, tapi milih untuk kabur. Tapi mau gimana lagi, kalu saya jadi mereka, saya juga akan milih kabur aja daripada cari mati dengan ngelawan manusia-manusia serakah.

Setelah meninggalkan hutan, The Sullys memilih untuk pindah ke klan laut, Metkayina, untuk meminta perlindungan. Awalnya klan Metkayina ngga mau nerima mereka dikarenakan mereka dianggap bukan Na’vi sejati. Ya, Jake Sully dan anak-anaknya merupakan keturunan campuran dengan manusia dan memiliki 10 jari. Namun, setelah Jake Sully meyakinkan Quaritch, mereka kemudian diterima sebagai bagian dari Metkayina dengan syarat mereka harus mau segera menyesuaikan diri dengan kehidupan laut ala klan Metkayina.

Meski merupakan cerita fiksi, Avatar sebenernya membahas tentang ras, peradaban, anti-militer yang kuat dan membuat permohonan untuk konservasi lingkungan melalui kisah sederhana tentang orang tua dan anak-anak, dan juga pesan tersirat untuk manusia agar ngga memburu ikan paus untuk diambil cairan di otaknya. Klimaks cerita berkisar pada orang tua yang melindungi anak-anak mereka, seperti jargon keluarga Sullys, “Happiness is simple. The Sullys stay together. This is our biggest weakness and our greatest strength.”

Sebenenrya jalan cerita Avatar: The Way of Water ini menurut saya sedikit membosankan dan kurang greget. Bisa lah sebenernya selesai dalam waktu dua jam. Mungkin memang dasarnya saya ngga begitu suka nonton film dengan durasi yang sangat lama kali, ya. Jadi saya merasa bosan. Namun setelah saya baca-baca tentang produksi film ini, saat ditanya mengapa durasi film sampai tiga jam, James Cameron menjawab,

“The goal is to tell an extremely compelling story on an emotional basis, I would say the emphasis in the new film is more on character, more on story, more on relationships, more on emotion. We didn’t spend as much time on relationship and emotion in the first film as we do in the second film, and it’s a longer film, because there’s more characters to service. There’s more story to service.”

Ya, meski agak membosankan, Avatar: The Way of Water  terasa lebih emosional daripada Avatar. Pengenalan dan pendalaman masing-masing karakter sangat detail sehingga kita bisa merasakan perasaan masing-masing karakter. Hubungan antar karakter juga sangat detail bagaimana seseorang beradaptasi dengan lingkungan serta orang-orang baru. Apalagi di bagian saat Nayetama meninggal, saya bisa merasakan gimana pedihnya seorang ibu melihat anaknya meninggal dan teriakan Ney’tiri terdengar bener-bener pedih. Hiks.

Selama tiga jam pula kita disuguhi efek visual yang super bagus, beneran ngga kaleng-kaleng, apalagi scenes di bawah laut yang membuat kita jadi terasa ikutan menyelam. Perpindahan latar tempat dari hutan lebat hingga terumbu karang yang menakjubkan terasa sangat meditatif dan menghipnotis. Para aktor juga pada jago banget nyelamnya. Saya ngga tau siapa saja yang pakai stunts saat nyelam, tapi menurut trivia di IMDB, Kate Winslet ngga mau pake stunt dan malah memecahkan rekor karena bisa menyelam dan menahan nafas selama 7 menit. Wow! Rekor tersebut mengalahkan rekor menyelam Tom Cruise selama 6 menit di film Mission: Impossible – Rogue Nation (2015). Sedangkan Bailey Bass, pemeran anak Kate Winslet, Tsireya, mampu menyelam dan menahan nafas hingga 6 menit 30 detik.

Pict from wallpapercave

Nonton Avatar: The Way of Water seperti dejavu dengan scene yang mengingatkan kita pada film-film James Cameron lain seperti Titanic, True Lies, The Abbys, dan juga Terminator. Dari pengenalan masing-masing tokoh yang sangat detail dan juga ending yang masih gantung, film ini memang sepertinya disiapkan untuk sequel berikutnya yang katanya akan dirilis tahun 2024 mendatang. Lama-lama bisa jadi seperti Star Wars yang banyak sequel-nya 😀

Baiklah, udahan dulu. Detail cerita lain silahkan tonton sendiri, ya! Dengan harga tiket di bawah Rp50.000.00, Avatar: The Way of Water sangat layak untuk ditonton. Saran aja kalau mau nonton cari jam tayang siang atau sore biar ga tambah bosen dan ngantuk. Semakin ngga sabar untuk nunggu lanjutannya di Avatar 3 nanti! See, ya!

Hits: 43

Leave a Reply