LIFE MOTHERHOOD

Ivy Masuk Sekolah

Berawal dari keisengan Ivy nyusulin kakak sepupunya sekolah di PAUD dekat rumah neneknya, akhirnya Ivy pun keesokan harinya ikut-ikutan masuk PAUD.

Sebenrnya saya dan papanya Ivy nggak akan menyekolahkan Ivy sebelum dia berumur lima tahun. Rencana awal kami berdua sepakat untuk melewati tahapan PAUD dan akan langsung memasukkannya di TK saat dia nanti umur lima tahun. Kami mikirnya toh PAUD juga gitu-gitu aja, kalau Cuma bernyanyi, berdoa, mewarnai, belajar huruf dan angka, kami juga sudah mengajarinya setiap hari. Bahkan kalau dibandingkan teman sebayanya kemampuan dia juga di atas rata-rata kalau Cuma menggambar, mewarnai, dan berbahasa Inggris dasar.

Ivy pun dari dulu juga nggak pernah mau saat ditawari untuk masuk sekolah. Jawabannya sudah pasti, “NO! Nggak mau!”. Alasannya klise sih, dia nggak mau sekolah karena nggak mau bangun pagi dan menulis. Ivy suka menggambar dan mewarnai tapi nggak suka menulis meskipun dia udah bisa menulis namanya sendiri dan kenal beberapa huruf.

Saya dan papanya kepengen dia tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak balita. Saya nggak mau Ivy menghabiskan waktu di sekolah, melakukan rutinitas, membangunkannya pagi-pagi, dan mengerjakan PR sepulang sekolah. Masih kecil kok udah disuruh ngerjain PR. Hiks.

Tapi, rencana-rencana itu sekarang telah buyarrr! 😀 Ya gimana, Ivy ternyata suka banget, banget, banget sama sekolah. Saya nggak nyangka aja kalau dia bakal suka banget sekolah, pagi-pagi mau aja dibangunin buat berangkat sekolah, sampai sekolah langsung lupaaa sama emaknya dan lari gitu aja menuju kelas dan bertemu teman-teman barunya. Huhuhu. Kan saya sedih lihatnya ditinggalin gitu aja.

Udah dua minggu ini Ivy sekolah sejak dia iseng nyusulin kakak sepupunya sekolah. Jadi keesokan harinya dia pagi-pagi udah bangun sendiri dong, minta mandi, sarapan, trus berangkat sekolah lengkap dengan peralatan gambarnya. Oh, dia mana mau bawa pensil warna isi 12 warna. Dia bawa yang isi 48 warna, dong! Iya, dia udah bisa bedain semua warna, yang light maupun yang dark, dia tau. Warna pink aja ada beberapa pcs, biru, kuning, ada macem-macem shade. Dia nggak mau bawa buku mewarnai yang tipis, dia maunya bawa yang tebel, gede, yang isinya lengkap. Jadinya dia bawa totebag tambahan untuk tempat bukunya yang segede gaban dan juga pensil warna warninya. Oh, nggak Cuma pensil warna, dia juga bawa crayon satu set. Kata gurunya, dia kayak mau kompetisi mewarnai aja bawa alat tempur lengkap L

Setelah dua minggu dia masuk pendidikan formal, ada beberapa hal yang mengubah sifat-sifat Ivy. Ada beberapa perbedaan sifat yang tentunya dia jadi lebih baik setelah dia masuk sekolah. Di antaranya:

  1. Kami bertiga jadi lebih disiplin.

Ivy dari bayi banget baru keluar dari rahim dia udah suka begadang dan bangun siang. Persis seperti saya dan papanya. Sebelum sekolah dia selalu bangun di atas jam 9 pagi. Bahkan kadang sampai jam 12 siang baru bangun tidur. Rekornya dia pernah bangun jam 2 siang dong! Tapi setelah masuk sekolah, dia bisa bangun lebih pagi. Begitu juga dengan kami berdua. Sebenernya sekolahnya masuk jam 8. Tapi karena saya bilang ke gurunya kalau Ivy nggak bisa bangun pagi seumur hidupnya, jadi dikasih kelonggaran berangkat agak siang dan selama dua minggu ini dia belum bisa masuk tepat waktu aka selalu terlambat. Tapi ya nggak apa-apa, paling nggak dia jadi disiplin setiap hari bisa bangun maksimal jam 7.

Dengan begitu, kami berdua jadi lebih produktif. Bisa mulai kerja lebih awal. Bisa sarapan lebih awal, dan kami merasa hidup kami jadi berubah aja, berubah lebih baik tentunya. Nggak buang-buang waktu Cuma buat tidur dan bangun siang. Ya gimana dong, bangun siang is lyfe! L

  1. Timeline hidupnya jadi lebih teratur.

Dulu sebelum sekolah dan dia suka banget bangun siang, timeline kehidupannya sehari-hari ga teratur banget. Misalnya dia bangun jam 11 siang, nah habis itu mandi, makan. Jam makannya udah masuk jam makan siang. Terus kalau gitu saya jadi susah ngatur jamnya makan siang kapan, jamnya tidur siang kapan. Jadi ya hidup dia nggak teratur. Kalau laper ya makan, kalau ngantuk ya tidur. Nggak pernah sesuai jadwal atau jamnya.

Kalau sekarang karena dia pagi-pagi udah bangun, otomatis siang jadi ngantuk dan pasti capek karena habis sekolah. Pagi-pagi juga udah sarapan. Nanti jam makan siang pun jadi tepat waktu, dan malam pun dia jadi lebih awal tidurnya. Nggak lagi begadang sampai tengah malam.

  1. Ivy nggak lagi jadi pemalu dan jadi mudah bersosialisasi.

Ivy dari kecil pemalu banget. Nggak suka ketemu orang-orang baru. Saya tau dia selalu nggak nyaman tiap ketemu orang baru dan orang-orang yang jarang ketemu. Bahkan dengan anak sebayanya pun dia nggak mau berbaur. Mau sih, Cuma butuh waktu yang lama untuk dia merasa nyaman dan mau main bareng. Pas waktu pertama masuk kelas dia juga minta saya untuk nemenin di dalam kelas. Ya nggak apa-apa, emang sekolah merupakan hal yang baru banget buat Ivy. Dia sebelumnya nggak pernah punya skemata sekolah tuh seperti apa, sih? Meski udah sering nonton Peppa Pig dan Upin Ipin sekolah ya tetap beda. Nggak bisa disamain situasinya. Tapi hari ke tiga masuk sekolah dia minta saya untuk nunggu di luar kelas. Nggak mau lagi ditemenin di dalam kelas, sampai sekarang. Bahkan dia mau aja diantar papanya aja, atau malah kapan hari saat saya sibuk urusan kerjaan dia diantar sama utinya. Yayy, so proud!

Tentunya sekarang dia juga udah terbiasa ketemu dan ngobrol sama orang-orang baru. Saya lihat dia udah mulai nyaman diajak ngobrol orang lain, mau jawabin pertanyaan-pertanyaan dan udah mau salim maupun tos. Dulu, boro-boro! Saat saya tanya apa yang membuatnya seneng banget sekolah, dia jawab, “Karena di sekolah banyak temennya.” Oh, saya lega dengan jawabannya karena memang dia terbiasa nggak punya temen makanya dia egois, namun sekarang dia punya banyak temen dan saya yakin hal itu membuat hidupnya jadi lebih berwarna dan lebih happy.

  1. Ivy jadi nggak egois.

Sejak dia masuk sekolah, saya lihatnya dia udah mau berbagi sama orang lain, khususnya teman sebayanya. Dulu kalau ada yang datang ke rumah, dia nggak bakal mau main bareng atau minjemin mainannya. Sekarang, dia mau aja main bareng, bahkan mau minjemin mainan-mainan kesayangannya ke temennya saat main ke rumah. Saya sempet khawatir gimana kalau nanti dia jadi orang yang pelit dan nggak mau berbagi? Tapi sekarang udah lumayan lega lah rasanya lihat Ivy banya berubah. Di kelas juga mau sharing pensil warnanya saat teman sebangkunya lupa bawa pensil warna.

Beberapa poin di atas yang menurut saya mengubah sifat Ivy secara signifikan. Perubahan yang lain masih banyak, yang pasti saya, papanya, dan juga nenek kakeknya seneng sama perubahannya Ivy. Saya percaya kenapa pendidikan formal itu penting banget. Ada hal-hal yang nggak bisa kita ajarkan sendiri di rumah. Kita butuh pihak lain untuk membantu mendidik anak kita agar menjadi anak yang lebih baik.

 

Playlist:

Leave a Reply

Your email address will not be published.