MOVIE REVIEW

REVIEW PENGABDI SETAN 2: COMMUNION

SPOILER ALERT!! Tulisan ini mengandung spoiler. Jadi kalau belum nonton mending jangan baca, ya!

Film Pengabdi Setan 2: Communion langsung menyita perhatian banyak orang. Di hari pertama rilis, Kamis, 4 Agustus 2022, meski belum genap satu hari tayang di bioskop, film garapan Joko Anwar ini sudah ditonton lebih dari 500 ribu orang. Gils!! Saya juga beli tiket sejak hari pertama pre-sale dibuka, bukan karena takut ngga kebagian, tapi biar ngga usah antre lagi di loket karena pasti ruame. Ternyata bener, lho! Rame bangetttt sampai lima studio full! Baiklah, langsung aja berikut review hasil nonton kemarin.

Adegan pembuka diawali dengan flashback ke tahun 1955 yakni saat penculikan seorang wartawan yang dilakukan oleh polisi/ABRI dan dibawa ke observatorium Bosscha di Lembang, yang ternyata di dalamya telah ditemukan banyak mayat berpocong dalam keadaan sujud di dalam suatu ruangan seperti sebuah pemujaan. Setelah itu, lanjut ke tahun 1984, di mana Rini sudah bekerja di sebuah pabrik dan hendak melanjutkan kuliah. Saat itu juga keluarga Suwono sudah pindah ke rumah susun yang setting-nya sudah cocok banget untuk memulai sebuah film horror.

Di film Pengabdi Setan sebelumnya, keluarga Suwono kehilangan seorang nenek, Ibu, dan adik kecil mereka, Ian. Peristiwa berakhir naas beberapa tahun lalu tersebut masih meninggalkan banyak pertanyaan. Namun rupanya tidak ada seorang pun yang mencoba untuk membahas peristiwa itu. Bondi, si anak ketiga, menyebut keluarganya tengah berpura-pura dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Pekerjaan sang Bapak yang serabutan juga tak luput dari pertanyaan ketiga anaknya yang ternyata akan terjawab di akhir film ini.

Sebuah peristiwa pada satu malam mengungkap sejumlah misteri yang selama ini mereka cari tahu jawabannya dan bagaimana kehidupan keluarga Suwono ini setelah melewati peristiwa mengerikan. Dengan beberapa setting lokasi di lift, lorong rumah susun, dan lubang pembuangan sampah rumah susun yang cukup menyuguhkan claustophobic yang menyeramkan seperti formula film dari The Autopsy of Jane Doe.

Petualang Bondi bersama dua temannya dalam mencoba memecahkan teka teki supranatural di lingkungan rumah susun tempat mereka tinggal membawa Stranger Things-vibes di film ini, plot twist justru saya dapat karena menonton trailer sebelumnya yang seolah olah memperlihatkan bapak akan meninggal di awal film, tapi ekspetasi saya ternyata keliru.

Setelah kecelakaan malfungsi lift yang menewaskan beberapa  tetangga mereka di rumah susun, teror non-stop horor dimulai dengan intens. Beberapa elemen mengingatkan saya pada dua film terakhir Ari Aster, Midsommar dan Hereditary, dengan menambahkan elemen mistis lokal yang cukup efektif meski tanpa dukun dan kemenyan; mayat dibalut kain kafan pocong yang harus menginap karena ada badai dan banjir di luar,  yang entah kenapa hanya ditutup dengan kain jarik separuh badan dengan wajah jenazah tetap terbuka.

Adegan penampakan saat wudu dan salat cukup membuat seisi gedung bioskop menutup mata. Dilanjut dengan adegan Wina dan hantu anak-anak kecil di lorong rumah susun mungkin homage dari adegan Come Play with Us dari film The Shining. Sosok Ian si bungsu yang juga mengingatkan saya pada Damien dari film The Omen. Kehadiran Tari yang dibintangi aktris Ratu Felisha, juga cukup memberikan nuansa teen slashers movie dan Warkop DKI pada film ini.

Vibes tahun 80an cukup dieksekusi dengan baik oleh Joko Anwar dengan menyuguhkan masa di mana televisi hanya milik segelintir orang, radio menjadi hiburan hampir di setiap rumah, dan film ini mengambil setting di masa petrus meneror masyarakat yang ditegaskan di beberapa adegan.

Musik nostalgia 80-an cukup membangunkan 80’s vibe sesuai dengan seting film. Scoring atmospheric sepanjang film sangat efektif membangun creepy ambience dan layak ditonton di layar lebar. Ritual sekte dengan creepy chants yang mungkin sedikit western.  Akhirnya setelah 119 menit yang intens, film ditutup dengan ending yang menggantung, mungkin untuk keperluan sequel Pengabdi Setan 3, yang tentunya layak ditunggu.

Leave a Reply