REVIEW THOUGHTS

[BOOK REVIEW] EMPOWERED ME (MOTHER EMPOWERS)

Oke, ini pertama kalinya saya membuat review buku. Karena ini pertama kali, saya beneran deg-degan ngetiknya. Terus, bikin draft dari minggu kemarin ngga kelar-kelar karena rada ragu, “Diterusin ngga ya nulisnya?” haha! Biasanya setelah selesai membaca sebuah buku, saya langsung menutup dan mengembalikannya ke rak buku. Baru kali ini setelah selesai baca, keinginan saya untuk ikutan curhat kok ya menggebu-gebu 🤣.

Hal itu disebabkan karena isi buku ini terlalu relate dengan keadaan saya saat ini. Buku “Empower ME (Mother Empowers)“, membuat saya sadar akan beberapa hal. Halaman demi halaman bikin saya merenung dan tertampar di beberapa bagian, tapi jangan khawatir, di sini saya akan bahas dan curhat di beberapa bagian yang menurut saya paling “Yawlaa ini aku banget!“, jadi ngga semua, ya! Kalau semua bab saya bahas dan curhat, bisa-bisa tulisan ini malah lebih panjang daripada jumlah halaman pada bukunya sendiri 😭.

Kesan awal saya membaca buku ini terasa seperti membaca blog versi lebih panjang dan lengkap. Bahasa yang dipakai Mbak Puty santai seperti biasanya beliau menulis di blog-nya. Menurut saya, ini sebenernya buku motivasi tapi saat membacanya kita ngga merasa sedang dimotivasi. Kebanyakan buku-buku motivasi isinya terlalu was wes wos dan kebanyakan diksi yang dipakai terlalu tinggi sampai kadang otak saya ngga nyampai untuk memahaminya. Sedangkan buku ini tuh engga; pemakaian diksi yang ringan, sederhana, analoginya dan pendekatannta diambil dari contoh-contoh sederhana di sekitar kita, bahasan runut, bahasa tegas, dan lugas sehingga membuat buku ini mudah sekali dipahami dan straight to the face! 🤣

 

Kita mulai bahas dari sampulnya. Dulu, saya juga ikutan votting untuk milih desain sampul. Sebenarnya waktu itu saya mau milih dua-duanya, tapi ngga jadi, karena saya pikir kok ya kesannya saya seperti orang yang ngga punya pilihan dalam hidup. Terus setelah flyer buku ini keluar, eh lha dalahh akhirnya kedua desain dipakai, dong! Hahaha 🤣🤣.

Selain itu, saya suka dengan tulisan-tulisan tangan di cover-nya. Memang saya sendiri pencinta tulisan tangan, apa-apa saya tulis manual pakai tangan. Jadi lihat cover buku ini pakai tulisan tangan membuat saya takjub dan meruntuhkan anggapan saya bahwa sebuah cover tuh harusnya perfect pakai font yang paling bagus, presisi, dan simetris. Ternyata pakai tulisan tangan pun bagus juga ya, serasa bikin zine. Ngga harus saklek pakai font yang bagus-bagus, tata letaknya pun ngga perlu presisi maupun simetris, jadi terkesan lebih personal dan santai ;)).

Sekarang mulai masuk ke isinya, ya. Mbak Puty melalui buku ini mempunyai dua gagasan utama. Berikut saya lampirkan kutipannya:

“Salah satu gagasan saya adalah dengan lebih 1) mengenali diri sendiri dan 2) berfokus pada tujuan (purposel, kemajuan (progress), dan proses (process) diri sendiri. Menurut saya, ketika seorang perempuan berfokus pada pengembangan diri dan menghargai prosesnya sendiri, rasa puas tidak perlu datang dari menyoroti kekurangan atau kejelekan orang lain”.

Mba Puty melalui buku ini mengajak pembaca untuk lebih mengenali diri sendiri agar kita bisa fokus dengan tujuan, kemajuan, dan proses diri sendiri. Hal ini jadi membuat saya kembali berpikir, “Apakah hidup saya yang sudah saya jalani selama ini sudah sesuai dengan tujuan awal saat saya memutuskan memilih jalan hidup seperti ini? Apakah selama ini sudah ada kemajuan dan juga perkembangan terhadap diri saya sendiri?”

Ternyata setelah saya tinjau kembali, semua jawabannya adalah “IYA”, padahal akhir-akhir ini saya sedang bimbang dan merasa bahwa selama ini saya salah memilih jalan hidup. Entahlah, kadang saya masih menyesal kenapa waktu itu saya ngga langsung ambil S2 agar jadi dosen tetap dan melanjutkan mengajar seperti yang sudah saya lakukan sejak masih kuliah. Tetapi saya malah sok-sokan memulai bisnis sendiri dan memutuskan untuk menikah serta punya anak.

Ditambah, tiba-tiba kapan hari saya mendapat tawaran untuk kembali mengajar di PTN almamater saya tersebut. Langsung dong ya hati saya bergejolak, di sisi lain saya pengen kembali mengajar, di sisi lain bagaimana pekerjaan saya dan kehidupan saya saat ini kalau saya kembali mengajar di luar kota? Apakah harus saya tinggalkan begitu saja usaha yang telah saya rintis sudah hampir 10 tahun ini? Belum lagi saya harus kembali belajar materi-materi karena sudah lama sekali tidak mengajar. Kalau dipikir-pikir, rasanya seperti memulai semuanya dari awal, padahal kehidupan saya sekarang udah settle, bisa dibilang udah tinggal enaknya dan menikmati hasilnya aja.

Di tengah kegalauan saya tersebut, buku “Empowered ME (Mother Empowers)” ini rasanya seperti tiba-tiba jatuh dari langit dan tepat menjatuhi muka saya, menyadarkan saya bahwa ternyata hidup saya selama ini baik-baik saja. Saya belum tentu akan lebih bahagia apabila menukar kehidupan saya saat ini dengan kehidupan baru, yang belum saya jalani, dan yang belum tentu juga hasilnya akan seperti apa. Bisa aja hasilnya malah zonk, kan? Hal itu membuat saya jadi lebih ikhlas dan semakin percaya diri untuk memantapkan hati. Keputusan saya diperkuat setelah saya baca kutipan di halaman 21 berikut:

  “… Setelah beberapa pekan, pelaku eksperimen menemui mereka kembali dan mendapati bahwa orang-orang pada kelompok yang diberikan kesempatan untuk menukar pilihan mereka lebih tidak bahagia dengan pilihannya daripada kelompok ke dua yang tidak boleh mengganti pilihan mereka”, 

Semakin dewasa saya semakin sadar bahwa kebahagiaan tidak melulu soal uang. Tidak bisa dipungkiri bahwa uang adalah salah satu sumber kebahagiaan. Saya juga bisa stres berat saat omzet saya menurun. Namun, ketika saya merasa cukup dengan semua pencapaian saya, rasanya saat ini saya tidak akan mau ambil risiko untuk ganti pekerjaan atau menukar kebahagiaan saya saat ini dengan sesuatu yang belum diketahui hasilnya.

Kalau orang Jawa bilang, “Sejatine urip iku mung sawang sinawang“, maksudnya, kehidupan orang lain yang kita lihat dari luar belum tentu kehidupan asli mereka seperti itu dan seenak yang kita lihat. Misalnya, ketika kita melihat teman kita jauh lebih sukses, punya ini itu, kita ngga tau kan sebenernya kehidupan aslinya seperti apa? Kita ngga tau ada usaha dan pengorbanan di balik kesuksesannya itu. Contoh lagi, saat kita melihat kehidupan artis kok kelihatannya enak banget ya, kerja gitu doang bisa punya segalanya, sering liburan ke luar negeri, beli ini itu, padahal jika dibalik dan kita yang menjalaninya, pasti juga akan sambat, pasti juga masih saja kurang, dan masih merasa insecure saat lihat pencapaian orang lain. Bukankah rumput tetangga selalu lebih hijau?

Jadi, saya terus berusaha untuk selalu menyadari bahwa ngga semua yang kita lihat tuh sama seperti apa yang kita bayangkan atau sesuai dengan ekspektasi kita. Bohong banget kalau saya ngga pernah insecureatas pencapaian teman-teman saya. Kadang saya juga minder dengan pencapaian diri saya sendiri. Namun, saya kembali sadar  bahwa membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain ngga akan ada habisnya dan justru membuat kita semakin tidak puas dengan pemcapaian diri kita.

Daripada saya ngurusin pencapaian orang lain dan membanding-bandingkan diri saya sendiri dengan orang lain yang ngga ada habisnya, di sela-sela waktu luang saya lebih memilih untuk melakukan hobi menulis jurnal dan belajar bahasa Jepang. Meski saya ngga pandai-pandai amat menulis jurnal dan sampai sekarang belum juga lancar berbahasa Jepang, paling tidak hobi saya tersebut bisa jadi distraksi dan jauh lebih bermanfaat untuk kemajuan diri saya.

BACA LAGI: MENULIS JURNAL UNTUK BELAJAR BAHASA JEPANG

Ada benernya, sih, kalau kita fokus dan sibuk dengan urusan kita sendiri, kita ngga akan ada waktu untuk ngurusin hal-hal yang bukan urusan kita. Kita ngga akan punya banyak waktu untuk nyinyir ke orang lain. Kita ngga akan punya banyak waktu untuk iri dan dengki dengan pencapaian orang lain.

Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa menurut saya buku ini sebenernya adalah buku motivasi, terbukti setelah selesai baca bukunya saya jadi termotivasi untuk curhat di sini. LOL. Ngga cuma motivasi untuk curhat saja, tapi setelah baca bukunya kita akan mendapatkan insight baru dan membuat saya jadi termotivasi untuk lebih produktif karena di buku ini Mba Puty juga memberikan tutorial bagaimana membuat jurnal sederhana yang bisa kita gunakan sebagai life tracker. Ada beberapa lembar semacam soal LKS yang bisa kita isi sesuai dengan kondisi dan perkembangan diri kita. Ada juga bar code yang bisa kita scan dan print sendiri, misal setiap ganti bulan pengen isi lagi dari awal, kita tinggal print lagi, deh! Nah, task ini yang menurut saya bisa mendorong atau memotivasi kita agar kita bisa merekam, melihat kembali, dan menghargai proses kemajuan dalam diri.

Saya termasuk slow reader, baca satu buku bisa beberapa hari, tapi buku ini bisa langsung selesai sekali baca. Lumayan pencapaian ini bisa saya masukkan ke kolom “small wins” di jurnal 🤣🤣.

Buat ibu-ibu yang sedang galau dengan pilihan hidupnya seperti saya, bisa banget ya baca buku ini. Belum jadi ibu juga bisa banget baca ini karena memang buku ini bukanlah buku parenting. Ngga ada bahasan antara ortu dengan anak, melainkan buku ini isinya mengajak kita untuk lebih mengenal serta fokus terhadap tujuan, kemajuan, dan pencapaian diri kita sendiri. OIYA ADA BONUS STIKER GEMASSS!! 😭😭. Mba Puty, kapan-kapan Kelincuy dibikinin sticker pack, dong! Ini jadi sayang make stikernyaaa! 😜🤣.

Informasi Buku

  • Judul Buku: Empowered ME (Mother Empowers) Ibu Berdaya Dimulai dari Diri Sendiri
  • Penulis: Puty Puar
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Jumlah Halaman: 174 halaman
  • Tahun Terbit: 2022
  • ISBN : 978-6020-659992

Playlist:

RADWIMPS – ORIGINAL SOUNDTRACK OF “THE LAST TEN YEARS”

 

 

 

 

 

 

REGINA SPEKTOR – BEGIN TO HOPE

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber foto:

Cover buku: Gramedia Pustaka Utama

Cover RADWIMPS: The Last Ten Years

Cover Regina Spektor : Begin To Hope

Leave a Reply